Venus Tantang Timsel, YU dan AJ Buka Data Hasil CAT

Logo KPU
Logo KPU

Lembaga Pemantau Visi Nusantara (Venus) Kabupaten Seram Bagian Timur mendesak dua oknum yang mengatasanamakan peserta seleksi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten/Kota di Maluku secara jantan membuka hasil CAT masing-masing kepada publik tidak bersembunyi dibalik inisial. Sebagaimana diberitakan salah satu media online. Minggu 7 Januari 2024.


Ketua Venus SBT, Sunardi Keliata mejelaskan, data yang diperolehnya adalah hasil investigasi, dan aduan masyarakat. Jika kemudian data yang telah dilaporkan itu dibantah atau disebut tidak sesuai pada SIAKBA, maka diperlukan tim independen untuk menyelidikinya, sebab ada dugaan server KPU telah diatur atau setting, sebab berkaca dari pengalaman peserta, ada peserta yang nilainya nol, dan ada peserta yang yang mengaku nilainya mengalami perubahan. Atau solusinya, YU dan AJ membukanya kepada publik secara langsung, jika ada kesalahan dalam angka, maka Venus akan meminta maaf dan melakukan klarifikasi kepada KPU RI terkait angka yang diperoleh oleh YU dan AJ.

" Banyak peserta yang menyerahkan hasil mereka kepada kami, dan kami rampung, kemudian kami analisa, sehingga kami simpulkan jika telah terjadi dugaan tindakan kejahatan yang terstruktur, sistematis, masif, serta penilaian timsel tidak lagi objektif dan mandiri. Tapi lebih dipengaruhi pihak luar, " tegas Keliata dalam klairifikasinya kepada tribun.

Menurut Keliata, sumber masalah sehingga terjadi pelaporan ke KPU RI karna tidak adanya tranfransi oleh penyelenggara seleksi terkait standar pemberian  nilai bagi para peserta.

Padahal  nilai peserta bukanlah informasi yang perlu dirahasiakan. Melainkan perlu dibuka kepada publik. Apalagi seleksi dilakukan untuk menyeleksi yang terbaik.

Laporan yang disampaikan itu juga bagian dari tanggapan masyarakat sebagaimana mekanisme yang ada di KPU dimana masyarakat diminta ikut mengawasi, meneliti, memeriksa juga mengkaji dan  merespon serta melapor kinerja Timsel atau peserta yang dinilain tidak sesuai prosedur .

" Timsel memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan tanggapan atau respon terkait seleksi yang terjadi. Tapi anehnya timsel tidak membuka berapa skors yang dicapai para peserta. Dalam penetapan hasil, bisa dipastikan timsel tidak memiliki standar untuk memberikan nilai esay yang baku. Sebab mayoritas yang tidak lolos, diberi angka 10 dan 5 pada jawaban esay. Termasuk para incumbet yang juga mendaptkan angka 10 pada essay mereka. Ini sangat irasional," kata Keliata.

Selain itu, kepada YU dan AJ, agar berani menggunakan identitas yang jelas dan tegas, tidak bersembunyi dibalik inisial, mengingat seleksi KPU bukanlah sebuah kejahatan yang perlu ditutupi.

Seleksi anggota KPU Kabupaten/Kota juga dilakukan untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik serta yang  berkualitas. Bukan memilih seseorang berdasarkan golongan atau karna ada kedekatan tertentu.

" Kenapa menggunakan samaran, pakai saja nama jelas, kalian yang mengikuti seleksi ini untuk mewakili masyarakat di penyelenggara pemilu, bukan mewakili kelompok tertentu. Jika kalian terpilih maka akan digaji menggunakan uang dari pajak rakyat, bukan uang pribadi atau kelempok tertentu," tegasnya lagi.

Selain itu, Keliata juga menyangkan sikap YU dan AJ yang langsung melakukan konferensi pers tidak lebih dulu menanyakan kepada lembaga atau mengklarifikasi kepada lembaga.

" Jika ingin mengklarifikasi data yang dilaporkan, mestinya mereka mengklarifikasinya kepada lembaga kami juga, bukan langsung membuat keterangan pers, pakai nama samaran pula, ada apa?. Jika tidak benar data yang kami sampaikan, silahkan buka data yang kalian punya," Kata Keliata.

Keliata juga menyinggung, sikap diam Ketua KPU Maluku atas kondisi polemik yang ada. Padahal pada tahun 2018 juga terjadi kecurangan.

"  Dulu Timsel provinsi 2018 juga melakukan kecurangan. Harusnya buka saja hasil cat dan essainya maka prinsip tranparansi dalam penyelenggaraan terpenuhi," kata Kaliata.(*)